Arlene

I just want to share my stories and my opinions about anything that make me interest. Nothing special, but if you have much more time, please don’t hesitate to spend your time reading my blogs, and please, write your comment. Okey? Have fun go mad, yoo…

“Nak, buang sampahnya di mana tadi?”

Filed under: Thought and Life — nony-loves-u at 8:40 am on Wednesday, July 15, 2009

Jika Anda adalah seorang ibu atau seorang ayah, sedang bertanya pada anak Anda seperti judul notes ini. Kira-kira apa jawaban anak Anda?

Saya berharap, teman-teman akan berharap, anak Anda menjawab: “Saya membuangnya di tempah sampah di sana,” atau jawaban seperti ini: “Saya pegang dulu, karena di sini tidak ada tempat sampah.”

Dari kecil, saat kita masih duduk di bangku sekolah, saya dan juga sebagian besar teman-teman yang pernah merasakan nikmatnya bersekolah di Taman Kanak-Kanak atau di Sekolah Dasar, kita selalu diajarkan membuang sampah pada tempatnya, yaitu tempat sampah. Dan saya selalu ingat motto yang terpampang di kelas saya ketika SD, berbunyi: “Kebersihan Pangkal Kesehatan.”

Semakin dewasa, saya belajar untuk menghayati motto tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi di rumah saya, di mana saya memiliki seorang ibu yang sangat pembersih. Ibu saya akan ngomel-ngomel seharian jika saya tidak meletakkan sandal pada tempatnya, menunda membuang sampah segera ke tempatnya, menunda mencuci piring setelah makan, dan menunda mencuci peralatan masak sehabis memasak, termasuk menunda aktivitas mandi saya di sore hari.

Saya bersyukur memiliki ibu seperti ibu saya, yang sangat disiplin soal kebersihan, menjadikan saya selalu ingat dan menjaga kebersihan di mana saja, meskipun ada orang atau pembantu yang dapat membantu saya membuang sampah atau menyapu, tapi saya berusaha menjaga kebersihan sekitar kita, agar pekerjaan mereka bisa lebih ringan.

Tapi hari ini saya kecewa sekali. Sebenarnya kekecewaan saya ini bukan hari ini saja. Hampir setiap pagi saya kecewa melihat masih saja ada orang membuang sampah sembarangan. Saya paling kesal melihat orang berpakaian rapi, bekerja kantoran, tapi masih saja membuang sampah seenaknya. Seolah-olah mereka tidak peduli dengan para tukang sapu dan petugas kebersihan. Seolah-olah dalam otak mereka berpikir “Kan itu sudah tugasnya, kalau kita semua buang sampah pada tempatnya, lalu tukang-tukang sapu itu gaji buta donk!”.

Setiap pagi dan sore hari, saya selalu menumpang KRL ekonomi, di mana setiap hari orang selalu saja menjadikan kereta itu “tempat sampah”. Mengapa saya sebut demikian? Pernah satu kali teman saya yang belum pernah naik KRL ekonomi Jabodetabek ikut menumpang kereta tersebut bersama saya. Ketika itu dia baru saja selesai menghabiskan satu bungkus krupuk yang dijajakan pedagang asongan di kereta. Dia bertanya pada saya, “Mbak, tempat sampah di mana ya?” Saya terdiam waktu dia bertanya demikian, karena di KRL ekonomi tidak ada tempat sampah. Lantas teman saya yang lain menjawab sambil bercanda, “Ya inilah tempat sampah. Kamu ini sedang duduk di tempat sampah.” Saya langsung tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Teman saya yang bertanya tadi melongo tidak mengerti. Akhirnya kami menjelaskan betapa buruknya kelakukan penumpang di KRL ekonomi Jabodetabek. Hampir sebagian besar penumpang selalu membuang sampah seenaknya di dalam kereta. Alasannya sederhana: “Nanti ada yang bersihkan.”

Lantas siapa yang membersihkan atau menyapu di dalam kereta? Sebenarnya setiap pagi, begitu kereta pertama jalan keluar dari depo, kereta telah dalam keadaan bersih. Namun sepanjang jadwal perjalanan, ada “petugas” kebersihan lain yang “membantu” membersihkan kereta, yaitu anak-anak gelandangan kereta yang selalu duduk jongkok-jongkok, menyapu atau sekedar menyapu lantai kereta, sambil menadahkan tangan meminta imbalan dari para penumpang. Dan ini sudah seperti lingkaran setan. Penumpang menyediakan lahan “pekerjaan” untuk para pengemis yang berkedok menyapu kereta, padahal yang disapu adalah sampah dari gerbong belakang ke gerbong depan, nanti tiba-tiba ada sampah yang dibawa dari gerbong depan ke gerbong belakang. Intinya? Silakan Anda simpulkan sendiri apakah mereka benar-benar menyapu, atau mungkin sampah yang disapunya adalah sampah yang itu-itu juga.

Kembali ke judul notes ini. Sore tadi saya kecewa dan marah sekali melihat penumpang yang terdiri dari seorang bapak, seorang ibu, dan seorang anak kecil kira-kira usia 5 tahun yang duduk berseberangan dengan saya. Si Ibu yang mengenakan jilbab rapi itu dan anaknya sama-sama sedang asyik menikmati minuman dalam kemasan. Si anak sudah selesai minum, tiba-tiba mengintip ke kolong bangkunya, dan melemparkan kemasan minuman kosong tersebut ke kolongnya.

Melihat hal itu, saya sulit menyembunyikan tatapan mata saya yang marah pada anak itu. Saya pelototin dia tanpa berkata apa-apa. Walaupun saya tidak yakin apakah si anak paham mengapa saya memberikan tatapan marah seperti itu. Tak lama kemudian, ibunya bertanya pada anaknya, “Minumanmu sudah habis? Tadi buang sampahnya ke mana?”, kemudian si anak menjawab sambil tangannya menunjuk ke bawah kolong, “tuh, buang ke bawah kursi.” Dan si ibu berkata, “Ya benar. Buang di situ.” Kemudian si ibu pun membuang kemasan minumannya ke kolong kursinya, sama seperti yang dilakukan anaknya. Pada saat itu, si ibu sempat melihat ke arah saya, dan saya memberikan pandangan sinis sambil menggeleng-gelengkan kepala, dalam hati saya berkata, “Percuma rambut ibu ditutup-tutupin jilbab, tapi akhlak ibu tidak mencerminkan islam.”

Indonesia oh Indonesia.. tidak usahlah kalian ribut-ributmasalah besar jika ingin maju seperti Singapura, Korea Selatan, Jepang atau bermimpi seperti Amerika. Tapi didiklah moral bangsa ini dengan pendidikan moral yang baik, bukan hanya dijejali dengan teknologi, sains yang pada akhirnya hanya berujung pada hapalan semata dan kecurangan dalam ujian akhir nasional. Membuang sampah pada tempatnya saja belum bisa, bagaimana mau memisah-misahkanantara sampah organik dan anorganik?

Indonesia merdeka hampir 64 tahun, tapi mendidik bangsanya untuk membuang sampah pada tempatnya masih gagal. Indonesia bersih hanya pada tanggal 17 Agustus, karena ada penilaian lomba kebersihan dalam rangka peringatan hari kemerdekaan. Tapi saya, masih belum bisa merdeka dari sampah yang ada di KRL Jabodetabek.

Kepada para petugas kereta termasuk PKD, saya kecewa pada Anda, karena Anda juga ikut berperan serta menjadikan KRL ekonomi jabodetabek sebagai “tempah sampah”.

Siapakah Fredy S?

Filed under: Books — nony-loves-u at 7:32 am on Sunday, December 30, 2007

Di tengah maraknya novel-novel remaja yang beredar di pasaran saat ini, tiba-tiba saya teringat dengan novel remaja jaman kakak saya dulu. Kira-kira di era 80-an, ada novel roman picisan karya Freddy S. Kalau saya tidak salah, cerita yang diangkat dalam novel-novelnya Freddy S bisa disamakan dengan novel seri Harlequim yang diterbitkan PT Gramedia. Dibilang novel remaja, sebenarnya novel tersebut tidak pantas diposisikan sebagai novel remaja, karena isinya cukup dewasa.

Satu kali, kira-kira belum lama ini, ketika saya membeli majalah di kios majalah dekat halte bis di Kebun Nanas Tangerang, saya melihat ada beberapa buku yang cukup menarik perhatian saya. Sampulnya mirip dengan sampul komik-komik jepang. Dengan sentuhan artistik sampul beraliran Manga, novel karya Freddy S dijajakan di kios-kios majalah di pinggir jalan. Cukup lama saya mengamati novel tersebut, karena awalnya saya pikir itu adalah komik lokal atau komik jepang yang dibajak oleh percetakan abal-abal. Ternyata…. Itu adalah novel karya Freddy S.

Ngomong-ngomong, sampai sekarang saya penasaran, seperti apa sih yang namanya Freddy S? Walaupun Gramedia saja tidak sudi menerbitkan novel-novelnya, tapi herannya, dengan kualitas kertas yang seadanya, novel karya Freddy S cukup digemari masyarakat kelas pinggiran. Kira-kira kenapa ya? Mungkin ceritanya agak-agak nyerempet, seperti novel-novel pendekar gendeng cap kapak 212 (ini sih novel silat jaman saya masih di bangku SD). Dan satu lagi, kira-kira, setelah diterbitkan sana sini, dengan kualitas buku yang ala kadarnya, apakah si Freddy S ini juga mendapatkan royalti dari hasil penjualan bukunya? Atau malah, buku-buku karyanya beredar begitu saja tanpa ijin resmi dari si empunya buku. Who knows???

Tapi sekali lagi, Freddy S adalah seorang penulis buku legendaris. Meskipun karyanya tak pernah bisa masuk toko buku Gramedia, tapi setidaknya, Indonesia punya satu penulis yang sekelas Harlequim. Freddy… Freddy.. padahal seri Harlequim juga isinya picisan, tapi sayangnya.. orang Indonesia tetap lebih suka produk asing ketimbang produk lokal.

Memberantas kejahatan dengan reward….

Filed under: Thought and Life — nony-loves-u at 5:56 am on Tuesday, September 25, 2007

Sampai hari ini… peraturan yang dibuat pemerintah tinggallah peraturan tanpa realisasi yang nyata. Dulu, katanya orang yang merokok di tempat-tempat umum akan ditangkapin, atau di denda.. tapi sekarang… masih saja ditemui orang-orang merokok di sembarang tempat. Lalu, katanya kalau naik motor tidak menyalakan lampu, akan kena denda, tapi nyatanya… masih banyak pengendara motor acuh-acuh saja.. tidak masalah. Lalu baru-baru ini keluar peraturan, bahwa memberikan uang pada gelandang dan pengemis akan kena denda, kita lihat saja.. apakah peraturan tersebut akan berjalan semestinya?

Masalah beginian.. kalau misalnya si penangkap pelaku pelanggar hukum diberi reward, misalnya setiap orang yang berhasil menangkap, maka denda akan masuk ke kantong pribadi, dijamin deh… para polisi akan giat bekerja di lapangan menangkapin pelaku pengacau keamanan tersebut. Lumayan, ini kan rejeki yang halal. Yang menangkap pelaku semangat, yang melakukannya juga segan. Masalahnya, selama ini, uang-uang tilang atau penangkapan beginian, atau malah biaya perkara, semuanya tidak jelas larinya ke mana. Malah mungkin masuk ke kantong pejabat-pejabat berwenang. Kasian…. yang capek-capek di lapangan siapa, yang gendut siapa. Wajar lah.. kalo makin tinggi jabatan di pemerintahan, orang tersebut matinya makin gak wajar. Kebanyakan makan duit haram sih…..

Jadi, pemerintah sebaiknya membuat peraturan harus dipikirkan bisa dijalankan atau tidak. Jangan sekedar peraturan sebagai bunga-bunga kampanye. Ya gak bos?

Derita menjadi Pemimpin

Filed under: Thought and Life — nony-loves-u at 5:47 am on Saturday, August 25, 2007

Orang bilang, menjadi pemimpin itu enak. Entah apakah itu menjadi pemimpin negara, pemimpin daerah, pemimpin perusahaan, pemimpin proyek, pemimpin rukun tangga, atau bahkan sekedar menjadi pemimpin dalam sebuah keluarga. Kalau menjadi pemimpin pemerintahan, tentu saja dari segi gaji, akan lebih besar. Berbagai “katabelece” dan “salam tempel” akan menyertai dinamika keputusan harian, yang tentu saja akan menyebabkan adanya fluktuasi penghasilan setiap bulannya di mana dengan batas bawah adalah gaji pokok. Kalau menjadi pemimpin di suatu bisnis berorientasi keuntungan, tentu saja menjadi seorang pemimpin bukan sekedar duduk di bangku yang lebih empuk, atau perolehan gaji yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang yang dipimpinnya, namun menjadi pemimpin adalah adanya suatu bentuk tanggung jawab yang harus dipikulnya.

Semua orang yang berambisi sukses pasti ingin menjadi pemimpin. Jika diberikan kesempatan lebih panjang untuk menjadi seorang pemimpin, dijamin tidak ada pemimpin yang rela melepaskan jabatannya begitu saja, kecuali dia benar-benar tidak sanggup atau karena dipecat.

Nilai seorang pemimpin adalah tanggung jawab. Untuk mewujudkan suatu tanggung jawab kepada yang dipimpinnya, si pemimpin akan menerapkan suatu aturan atau bahkan perintah. Bila anak buah tidak mengikuti aturan, maka pemimpin berhak menegur atau bahkan menindaknya. Tapi sekali lagi, yang namanya species manusia, semuanya selalu merasa benar, merasa dirinya yang paling terbaik. Ketika kepentingan seseorang berbenturan dengan aturan yang dibuat si pemimpin, mulailah muncul rasa ketidaksukaan. Di antara semua orang yang pernah menjadi pemimpin, tidak ada yang 100% dicintai bawahannya, atau belum pernah mendapatkan kecaman, gerutuan, atau yang sejenisnya sedikitpun. Bahkan Tuhan sekalipun, pasti ada umat-Nya yang sedikit menggerutu atas nasib yang dijalaninya saat itu. Jadi, selama Anda belum siap menerima protes, kecaman, kritikan tajam, jangan pernah nekat menjadi pemimpin. Pada saat Anda siap dimusuhi, dikecam, berarti Anda sudah siap menjadi pemimpin. Manusia memang tipikal yang tidak pernah puas. Senangnya mengecam orang lain, mengomentari orang lain, namun hanyalah sekedar omong kosong belaka tanpa disertai aksi. Ibarat menonton pertandingan sepak bola, si komentator selalu seolah-lah lebih pintar daripada para pemain yang sedang berlaga di lapangan hijau. Kira-kira seperti itulah sifat bangsa kita, Bangsa

Indonesia

yang NATO = No Action, Talk Only.

 

Memaksimalkan Fungsi Jalur Busway

Filed under: Travel — nony-loves-u at 5:53 am on Monday, August 20, 2007

Sarana transportasi yang katanya bebas macet di

Jakarta

adalah Busway.
Semenjak awal tahun 2007, jalur busway yang semula hanya menghubungkan Blok
M-Kota, kini diperluas menjadi 7 jalur, istilahnya koridor, yang menghubungkan hampir seluruh pusat bisnis dan niaga
se-Jakarta. Seluruh jalur busway dibatasi dengan pemisah jalan dengan jalur
kendaraan bermotor lainnya. Intinya, hanya busway yang boleh lewat jalur
tersebut. Busway merupakan terminologi dalam bahasa Inggris, yang entah kenapa,
terminologi ini tidak diupayakan untuk di

Indonesia

-

kan

.

Masih ingatkah Anda, beberapa tahun lalu ketika
pemerintah mengeluarkan

surat

edaran agar semua nama tempat atau jalan di-Indonesia-kan. Terminologi “plaza”
menjadi “plasa”. Lalu nama tempat “Park Royal” akhirnya berubah menjadi “Puri
Raya”, sebab kalau nama ini dipaksakan untuk di-Indonesia-kan, namanya akan
menjadi “taman megah” (tentu saja ini adalah nama yang kurang menjual). Mungkin
karena itulah pihak pengelola memutuskan menggunakan nama “Puri Raya” sebagai
nama pengganti. Selain cukup mirip dari segi pengucapan, “Puri Raya” masih
merupakan nama yang bagus. Mengubah nama tempat menjadi “terjemahannya” tentu
saja akan membuat bingung orang-orang yang ingin berkunjung ke tempat tersebut.
Lalu, bagaimana dengan busway? Jika dipaksakan untuk diterjemahkan ke dalam bahasa

Indonesia

,
akan menjadi “jalan bis”. Memang benar, busway adalah jalan untuk bis, hanya
saja, ada pengecualian, yaitu tidak semua bis yang boleh lewat di jalan tersebut.
Busway hanyalah jalan bis khusus milik Trans Jakarta, yang sekali lagi katanya,
sahamnya mayoritas dimiliki oleh pejabat-pejabat DKI. Lalu, bagaimana dengan
nasib bis-bis umum lainnya? Yang pasti, sedikit demi sedikit, beberapa trayek
bis umum lenyap dari peredaran. Mungkin beberapa tahun lagi,

Jakarta

semua jalur bis di

Jakarta

isinya hanya untuk busway atau Trans Jakarta.

Kembali ke soal terminologi “busway”. Terminologi
ini dipastikan melekat dengan nama Trans Jakarta. Setiap kali orang ditanya,
“mau ke pasar baru enaknya naik apa?”, ketika yang ditanya menjawab “naik
busway”, maka si penanya pasti sudah tahu maksudnya, yaitu naik Bis Trans
Jakarta. Intinya, nama lain bis Trans Jakarta adalah busway. Tapi, kalau si
penjawab tadi adalah orang Jawa, jawabannya pasti akan terdengar seperti ini:
“naik bas wae”, yang kalau dipaksa untuk diterjemahkan ke bahasa

Indonesia

,
artinya “naik bis aja”. J

Mari kita kembali ke judul semula. Pernahkah Anda
merasa gemas, di kala macetnya lalu lintas, namun jalur busway kosong
melompong? Sampai-sampai Anda ingin memaksakan kendaraan Anda melintas paksa
pemisah jalan supaya Anda dapat memanfaatkan jalur busway tersebut. Tentu saja
hal ini akan menjadi makanan empuk polisi lalu lintas berperut gendut, yang
dengan senang hati menilang kendaraan Anda, dan berdusta bahwa formulir biru
sudah tidak berlaku sehingga Anda dipaksa berdamai dengan menyelipkan 50 ribuan
supaya tidak repot mengurus persidangan karena mengisi formulir merah.

Untuk sementara, kesampingkan dulu kekesalan Anda
terhadap kecurangan dalam praktik penegakan lalu lintas yang tertib. Mari kita
sorot jalur busway ini dari sudut pandang kelestarian lingkungan. Beberapa
jalur busway, katanya, dibangun dengan memangkas beberapa jalur hijau di

Jakarta

. Padahal, jalur
hijau sangat penting untuk menyerap beberapa polusi udara yang terjadi akibat
peningkatan kendaraan bermotor. Kini,

Jakarta

makin tambah panas, karena jalur hijau yang semula, di mana pepohonannya sudah
lumayan rimbun, kini digantikan dengan pohon-pohon yang masih muda, bahkan
untuk tumbuh sehat saja pohon-pohon tersebut sudah susah karena cahaya matahari
yang diperolehnya terlalu berlebihan dan karbondioksida yang harus diserapnya
pun terlalu banyak. Segala hal, yang judulnya berlebihan, pasti akibatnya tidak
sesuai harapan.

Namun, pernahkah Anda memperhatikan kondisi jalan
yang digunakan untuk jalur busway? Perhatikan baik-baik. Jalur busway
benar-benar pas untuk dilalui 1 buah bis. Jadi, apabila bis Trans Jakarta lewat
di jalurnya, bahkan untuk seorang manusia berdiri di samping bis tersebut sudah
tidak mungkin, kecuali kalau mau cari mati. Kemudian, cermati kondisi aspal di
jalur busway tersebut. Memang sih, tidak semua aspal mulus. Entah kenapa, baru
satu tahun dioperasikan, kondisi aspal jalan pada beberapa jalur busway sudah
bergelombang bahkan berlubang. Saya jadi teringat dengan kondisi aspal di
terminal Baranang Siang Bogor. Namanya dana pembangunan jalan, biasanya sudah
dianggarkan cukup besar. Namun karena terlalu banyak pejabat yang butuh
“nutrisi tambahan”, anggaran pembangunan jalan pastinya sudah disunat

sana

sini. Yang penting,
pada saat peresmian kelihatan mulus, “Bapak” pasti sudah senyum-senyum puas.

Sekarang, mari kita hubungkan masalah jalur busway
dan pembangunan jalur hijau. Karena aspal jalan yang digunakan bis hanya
sebesar 2 buah ban bis sebelah kiri dan 2 buah ban bis sebelah kanan, maka
otomatis bagian tengah-tengah jalur busway yang letaknya persis di bawah bis
tidak digunakan sama sekali. Oleh karena itu, jalur busway sebaiknya dibuat pas
hanya untuk 2 buah pasangan ban bis tersebut. Jadi, bagian tengah jalan
tersebut bisa dimanfaatkan untuk pembuatan parit atau lajur hijau yang
tingginya maksimal setinggi ban bis tersebut. Dari segi biaya pembangunan
jalan, pastinya akan lebih murah, karena aspal yang harus dibangun dan
dipelihara hanyalah sebesar 2 buah pasangan ban bis tersebut. Selain itu,
kendaraan selain bus, pastinya akan berpikir dua kali untuk memaksa melintas
paksa jalur tersebut. Dengan demikian, hal ini dapat mengurangi beberapa
kecurangan dan memaksimalkan fungsi jalur busway, yaitu sebagai saluran air
tambahan di kala musim hujan, dan sebagai jalur penghijauan, karena jika di
sana sini sudah teraspal semuanya, ujung-ujungnya rakyat lagi yang dirugikan
ketika musim penghujan tiba.

Bagaimana? Ini ide yang cukup menarik, bukan? AYO,
Benahi Jakarta!

 

 

Guru yang paling hebat adalah guru PMP/PPKN!

Filed under: Thought and Life — nony-loves-u at 5:55 am on Monday, February 26, 2007

Semua orang yang mengaku punya ijasah SD, SMP, SMA, dan bahkan ijasah perguruan tinggi, pasti pernah mendapatkan pendidikan moral. Pada era 80-an, pendidikan moral dikenal dengan nama Pendidikan Moral Pancasila (PMP), kemudian di era 90-an, PMP diganti menjadi PPKN (sorry banget, gue lupa apa kepanjangannya…), dan di Perguruan Tinggi ada mata kuliah Kewiraan, dan ada juga mata kuliah Character Building. Lalu pada era 80-an hingga 90-an, siswa baru tingkat SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi diwajibkan mengikuti penataran P4 alias Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (sorry kalau singkatannya salah). Semuanya tentang Pancasila. Apa sih Pancasila itu? Selain bicara tentang dasar negara, Pancasila juga berbicara tentang nilai-nilai luhur tentang kemanusiaan, tentang tata-cara hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Selama belajar PMP, atau PPKN atau apalah istilahnya untuk mata pelajaran moral tersebut, tentu semua orang masih ingat apa yang diajarkan dalam pelajaran tersebut. Pendidikan moral mengajarkan bahwa manusia harus saling tolong-menolong, tidak mencuri, membuang sampah pada tempatnya, tidak boleh berbohong, sopan dan santun kepada yang lebih tua, tidak boleh memaki orang lain, dan berbagai perbuatan baik lainnya. Banyak siswa yang selama di sekolah selalu menganggap enteng pendidikan moral tersebut dan selalu merasa yakin nilai raport-nya tidak akan pernah di bawah 7.

Pendidikan moral memang jauh lebih mudah dibandingkan pelajaran matematika, fisika, atau kimia, dan bahkan lebih mudah dari pelajaran ekonomi dan sejarah nasional. Padahal, pendidikan moral sebenarnya jauh lebih sulit dibandingkan pelajaran lainnya. Mudah untuk dinilai di selembar kertas, tetapi tidak mudah untuk direalisasikan di dunia nyata. Mau tahu mengapa saya menyatakan demikian?

Coba deh, jalan ke pemukiman padat penduduk di wilayah Jakarta. Perhatikan jumlah anak-anak, dan warga yang katanya pernah mengenyam bangku pendidikan sekolah. Selanjutnya perhatikan perilakunya terhadap lingkungan. Mulai dari anak-anak usia sekolah, sampai para orang tuanya, semuanya membuang sampai tidak pada tempatnya. Rumah mereka mungkin saja bersih, tapi apakah lingkungan di sekitarnya pun bersih? Perhatikan pula saluran-saluran air di sekitar rumah mereka. Warnanya butek, penuh sampah plastik, disertai jentik-jentik nyamuk. Saya tidak heran mengapa musibah banjir yang menimpa Jakarta semakin meluas dan semakin parah dibandingkan tahun 2002. Dan saya tidak heran pula mengapa wabah demam berdarah dan malaria merajalela di Jakarta. Saya juga tidak heran mengapa wabah muntaber juga menyerang warga Jakarta. Kira-kira kemana air pembuangan itu mengalir? Rumah yang terlalu padat, setiap rumah membangun MCK, belum lagi sistem septic tank yang dibangun asal-asalan akan mencemari air tanah yang senantiasa digunakan sebagai sarana MCK dan air untuk memasak. Itu semua adalah akibat ulah masyarakat sendiri, yang menyepelekan masalah kebersihan. Dan itu hanyalah contoh kecil dari kegagalan pendidikan moral Pancasila yang sejak kecil diajarkan, dan hanya untuk dihapalkan dan sekedar mendapatkan nilai tinggi di sekolah, dan bukan untuk diamalkan. Contoh lainnya? Tentu saja masih banyak. Misalnya: ada anggota DPR yang sibuk memikirkan tunjangan daripada memikirkan rakyatnya, penyanyi dangdut yang sangat bangga memamerkan aib perzinahannya, pelacuran dan poligami  yang berkedok kawin siri, dan masih banyak lagi.
Jika kita bandingkan pendidikan di Indonesia dengan pendidikan di Amerika dan Eropa, siswa usia 6 s/d 8 tahun di Indonesia jauh lebih pintar dibandingkan dengan siswa di Amerika dan Eropa pada usia yang sama. Pada usia 6 tahun, anak Indonesia sudah jauh lebih pandai membaca dan menulis, dan bahkan melakukan perhitungan yang lumayan rumit. Hal ini disebabkan perkembangan kurikulum Indonesia yang menuntut seperti itu. Sedangkan di Amerika dan Eropa, sangat jarang ditemui anak usia 6 tahun yang sudah lancar membaca dan menulis. Di Amerika dan Eropa, pendidikan untuk anak-anak usia 6 tahun lebih menekankan pada pendidikan moral, keberanian berpendapat, dan pengembangan sikap mandiri, dibandingkan kemampuan akademis yang beraneka macam. Menanamkan pendidikan moral haruslah sejak dini, dan bukan sekedar untuk dihapalkan, tetapi untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Saya yakin, mendidik orang dengan moral yang baik jauh lebih susah dibandingkan mendidik calon-calon PNS, calon anggota DPR, calon pejabat pemerintahan, dan para calon Menteri Negara RI. Jadi, berbanggalah menjadi guru-guru PMP/PPKN yang berjasa dalam mendidik moral Warga Negara Indonesia, walaupun lebih banyak gagalnya dibanding berhasilnya. 

Indonesia, benarkah adalah Sebuah Bangsa Kuli?

Filed under: Thought and Life — nony-loves-u at 5:36 am on Monday, February 19, 2007

Pada sebuah kuliah Analisis Kebijakan Agribisnis di MMA IPB 2 tahun yang lalu, saya masih ingat serangkai kata-kata dalam bahasa Belanda yang diucapkan oleh dosen saya, kalau tidak salah artinya adalah “Indonesia adalah sebuah bangsa kuli”. Saya sempat terkesima mendengar kata-kata itu, benarkah orang Indonesia adalah bangsa kuli, yang hanya bisa menjadi kuli bagi bangsa lain?

Kalau kita perhatikan saat ini, perusahaan-perusahaan besar yang ada di Indonesia, siapakah pemiliknya? Siapakah pemegang modal kuat di perusahaan-perusahaan tersebut? Jika bukan investor asing asal Eropa, Cina, Jepang, Amerika, India, Korea, atau bahkan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand, pastinya perusahaan-perusahaan itu dimiliki oleh investor lokal keturunan Cina dan Arab. Berapa persen sih dari total perusahaan yang sukses di Indonesia adalah milik pengusaha pribumi asli? Hanya segelintir pengusaha pribumi yang sukses di negerinya sendiri. Dan hanya segelintir pula pengusaha pribumi yang bisnisnya terlihat “besar”, itu pun karena dia bekas pejabat atau sedang menjadi pejabat. Selebihnya, orang-orang pintar, pribumi asli dengan pendidikan tinggi hanya menjadi kuli dari para orang keturunan cina, keturunan arab, keturunan india, dan orang-orang asing lainnya yang nota bene bukan Warga Negara Indonesia. Meminjam kata-kata si penulis Rich Dad Poor Dad, karena menjadi kuli adalah cara yang paling aman untuk menjalani kehidupan ini, dibandingkan menjadi pengusaha.

Sebenarnya, apakah benar orang Indonesia tidak punya mental menjadi pengusaha? Hal ini tidak sepenuhnya benar. Ada banyak faktor internal dan eksternal yang menyebabkan lebih banyak orang Indonesia memilih menjadi kuli daripada menjadi pengusaha atau pemodal. Salah satu faktor internal yang cukup berpengaruh adalah didikan turun temurun di dalam keluarga yang mengharuskan seorang anak setelah lulus kuliah adalah mencari pekerjaan, bukan menciptakan pekerjaan. Sedangkan faktor eksternal, pemerintah mungkin bisa menjadi salah satu kesalahan utama mengapa orang Indonesia susah berkembang menjadi pengusaha. Lihat saja, betapa banyaknya pasar-pasar tradisional yang oleh pemerintah disetujui untuk disewakan dan dialihfungsikan menjadi mall-mall dan pusat perbelanjaan yang elit? Lalu kemana para pedagang kecil itu dipindahkan? Kenapa pemerintah tidak mengubah bentuk pasar tradisional tersebut menjadi lebih rapi dengan cara melatih kedisiplinan para pedagang untuk menjaga kebersihan, dan menjadikan pasar tradisional sebagai wisata berbelanja yang menarik? Mengapa solusi yang dipilih pemerintah adalah menggusur para pedagang kecil dengan alasan demi keindahan kota? Mengapa pemerintah tidak melatih para penyuluh dan aparat keamanan untuk mendidik para pedagang kecil agar senantiasa berdagang dan berusaha sesuai peraturan yang berlaku? Tetapi kenyataannya pemerintah hanya berfungsi sebagai penindak dan “tukang palak”, baik resmi maupun tidak resmi.

Sebuah perusahaan bisa menjadi besar pasti karena pernah menjadi “sesuatu” yang kecil. Tapi bagaimana para pedagang kecil bisa menjadi besar dan mempengaruhi roda perekonomian Indonesia jika “baru ingin” menjadi besar saja sudah “dipalak” dan bahkan digusur? Pengalihfungsian lahan pasar tradisional menjadi mall sama saja memaksa orang Indonesia menjadi kuli dari para pemilik modal di mall-mall tersebut. Rasanya mimpi menjadi pengusaha sukses seperti Matahari Group yang dulunya hanya toko pakaian kecil, atau pengusaha Es Teler 77 yang berawal dari gerobak, atau Desainer Invio yang awalnya hanya beroperasi di garasi kecil, hanya menjadi mimpi kesiangan bagi para pengusaha kecil.

Faktor lain yang juga mempengaruhi sulitnya orang Indonesia berkembang adalah tingkat suku bunga pinjaman. Orang kecil, bahkan petani yang ingin mendapatkan Kredit Usaha Tani (KUT) selalu dipersulit. Hanya BRI yang masih “asyik” bergumul dengan bisnis micro banking-nya, sedangkan bank-bank yang lain, sangat gencar dengan kredit personal dalam bentuk kartu kredit bagi kuli-kuli yang selalu merasa kekurangan dana untuk membeli kemewahan. Memang benar sih, para pengusaha kecil tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk dijadikan jaminan, sehingga sebagai kompensasinya, suku bunga untuk Kredit Usaha Kecil (KUK) jauh lebih tinggi dibandingkan Kredit Investasi atau Kredit Modal Kerja yang diperoleh perusahaan besar milik pengusaha-pengusaha bermata sipit. Pada tahun 2005 saja, ketika saya sedang asyik-asyiknya menyusun tesis, suku bunga efektif untuk KUK hampir mencapai 21% per tahun, sedangkan untuk Kredit Modal Kerja perusahaan, bunga efektifnya hanya sebesar 17%. Oh my God! Alasan bahwa kemungkinan para pengusaha kecil mengalami kesulitan dalam pengembalian dana pinjaman mungkin saja benar. Tapi, jika ditotal-total seluruh pinjaman para pengusaha kecil yang ada dalam satu tahun, saya yakin, pinjaman tersebut tidak akan lebih besar daripada pinjaman sebuah perusahaan yang nilainya ratusan milyar. Kasus kredit macet perusahaan-perusahaan besar tahun 2006, seperti di antaranya kredit macet dari PT Lativi yang nilainya ratusan milyar, atau kasus Edi Tansil dahulu kala, patut disayangkan, mengapa dana sebesar itu macet hanya pada satu perusahaan, yang mungkin isinya hanya seribu ribu karyawan saja? Seandainya dana ratusan milyar itu dipinjamkan kepada para pedagang kecil, para petani, dan UKM-UKM yang ada, nilai kredit macetnya tidak akan sebesar itu, paling hanya beberapa milyar saja. Apalagi mental orang kecil, tidak seperti pengusaha besar, pengusaha kecil paling takut kena gusur atau disita barang dagangannya karena apa yang ada di depan mata itulah asetnya. Sedangkan pengusaha besar, aset di buku tidak pernah sama dengan aset fisiknya, yang meskipun sudah diaudit, auditornya pun sudah disuap, supaya “pandai-pandai” membuat laporan yang tidak merugikan kantong si investor meskipun sudah dinyatakan bangkrut.

Sebagaimana pula yang diceritakan seorang pengusaha besar bermata sipit kepada saya, bahwa beliau harus meng-entertain para pejabat daerah, baik berupa tiket liburan ke luar negeri atau bahkan hanya amplop berisi puluhan juta, hanya demi untuk mengantongi ijin usaha penambangan batu bara. Hal ini bukan prosedural, namun telah menjadi salah satu prosedur yang harus dilaksanakan para pengusaha kelas kakap untuk mendapatkan ijin usaha dari pemerintah, terlepas apakah usaha yang akan dijalankan tersebut sebenarnya layak atau tidak karena alasan lingkungan hidup, dan sosial ekonomi masyarakat setempat.

Saya tidak ingin menyalahkan pemerintah, karena pemerintah adalah orang Indonesia juga, yang bekerja untuk uang, bukan untuk bangsa. Saya juga tidak menyalahkan para anggota DPR yang berdemo menolak revisi PP 37 mengenai tunjangan anggota dewan. Kita semua kekurangan uang, karena pemerintah hanya sibuk memerintahkan BI dan Peruri untuk mencetak uang-uangan baru, sehingga mendesak inflasi berkepanjangan. Pemerintah dan anggota DPR saat ini kan terpilih karena mereka adalah orang Indonesia asli, jadi mentalnya kurang lebih sama, yaitu bangsa kuli. Jadi, sampai kapan pun, orang Indonesia akan terlahir dan terdidik sebagai bangsa kuli, karena yang mendidik dan memerintah adalah kuli, bukan bangsa pengusaha yang mungkin bermata sipit. :)

Sampai Kapan Mau Jadi Karyawan?

Filed under: Thought and Life — nony-loves-u at 7:01 pm on Monday, January 8, 2007

Kalau Anda ditanya dengan pertanyaan seperti itu? Apa jawaban Anda? Saya juga dulu bingung menjawab pertanyaan seperti itu meskipun saya adalah lulusan dari sekolah bisnis. Sahabat saya selalu berkata, "Jangan lama-lama kerja sama orang (jadi karyawan), cukup curi ilmunya, lalu kembangkan bisnis sendiri". Masalahnya, untuk mengembangkan bisnis sendiri, skill saja tidak cukup. Modal usaha tetap diperlukan, dan adakalanya harus mempertaruhkan seluruh tabungan yang ada, yang mati-matian dikumpul-kumpul dari hasil kerja sebagai karyawan.

Setelah membaca buku Rich Dad Poor Dad karangan Robert T. Koyosaki (saya menyebutkan buku ini sebagai karangan, karena saya meragukan tulisan itu sepenuhnya benar menceritakan tentang diri Robert T. Kiyosaki, tulisan itu seolah hanya fiksi yang memberikan semangat baru bagi calon-calon pengusaha muda), saya sempat berpikir, benarkan ayah saya adalah ayah yang miskin? Yang selalu menekankan saya agar mencari dan mencari kerja terus. Saya berpikir, kalau saya bekerja sama orang, ambisi saya sebagian akan tercapai, yaitu menjadi pucuk pimpinan tertinggi dalam suatu perusahaan (kalau sukses loh). Saya akan dipandang orang, dikagumi orang, dan sekaligus disegani orang karena bisa memecat karyawan kapan saja saya mau :D (kejamnya seorang pimpinan). Tapi sekali lagi, saya bukanlah pemilik dari perusahaan tersebut. Semakin tinggi gaji yang saya terima dan status sosial yang saya dapatkan kelak akan membuat gaya hidup saja semakin berubah. Sekali lagi, jika kondisi bisnis tidak ada masalah, saya akan bertahan duduk pada posisi terbaik tersebut. Tapi apa jadinya jika terjadi perubahan pemikiran dari si pemilik usaha, misalnya akibat merger dengan perusahaan lain, saya terpaksa disingkirkan karena alasan penghematan biaya SDM. Pada posisi yang sudah tinggi dan bagus, saya akan kesulitan mencari pekerjaan sejenis, dengan penghasilan yang sama. Maka, perlahan-lahan saya harus menurunkan kualitas hidup saya, demi menghemat pengeluaran karena tidak ada pemasukan sama sekali. Inilah tragedi PHK. Kebanyakan pekerja, yang biasa bekerja di perusahaan orang, tidak memiliki mental pebisnis. Dia bisa menjadi direktur di perusahaan orang lain, tapi jarang sekali berhasil menjalankan bisnis untuk perusahaannya sendiri. Mengapa? Saya sendiri tidak tahu alasannya :)

Sahabat saya selalu berkata bahwa dengan nekat membuka bisnis sendiri, maka akan melatih mental yang tadinya hanya menerima pekerjaan yang disodorkan, menjadi orang yang kreatif dan lebih bertanggung jawab, karena seluruh modal dan tenaga telah kita pertaruhkan di dunia nyata ini. Bisnis sendiri akan mungkin mengalami kebangkrutan. Tapi jatuhnya seorang pebisnis akan jauh lebih cepat untuk bangkit lagi karena sudah memiliki mental pebisnis, dibandingkan mental seorang karyawan yang di PHK. Seorang pebisnis dipaksa hidup susah oleh keadaan, dibuat senang oleh hasil jerih payahnya, dan bisa hidup tanpa pajak dengan alasan biaya operasional perusahaan. Nah, inilah yang saya cari. Hidup dengan penghasilan sebelum dipotong pajak, dengan alasan biaya operasional. Hehehe…. Bagaimana pun, kita memang harus pandai menghemat pajak, karena apa? Karena pemerintah saat ini pun tidak pandai mengelola pajak. Pemerintah saat ini cuma pandai mengeruk keuntungan pribadi dari para penyetor pajak, sehingga masyarakat yang tidak bekerja di sektor pemerintahan menjadi semakin miskin. Jadi, sampai kapan Anda menjadi karyawan? (Sampai Anda bosan menerima slip gaji yang sudah dipotong pajak terlebih dulu oleh koruptor ekslusif berkerah putih). :)

My Great Memories about Pattaya and Bangkok

Filed under: Travel — nony-loves-u at 2:53 am on Tuesday, December 26, 2006

Lima bulan sudah aku menjadi alien di Thailand, banyak sekali pengalaman berharga yang tidak akan terlupakan. Pertama kali menginjakkan kaki di bandara Bangkok (lupa apa nama Bandaranya.. hehehe…), mendengar suara pembaca jadwal keberangkatan dan kedatangan, rasanya merdu sekali. "Prhoksha.." alias "Attention..", lalu keluar dari bandara dengan taksi limo ke arah Pattaya dengan tarif 2500 bhat, atau sekitar 700 ribu rupiah (wakkks… mahal banget!). Tarif ini memang cukup mahal dibandingkan menggunakan angkutan travel biasa, sekitar 800 bhat per orang. Tapi karena si penjemput alias kakakku lebih suka menggunakan taksi limo, ya sudah.. kami (aku dan ayahku) menurut saja. Toh kalau dibandingkan biaya 800 bhat x 3 orang = 2400 bhat, biayanya ternyata sama saja :D

Jarak antara bandara sampai Pattaya sekitar 200 KM, ditempuh hanya dalam waktu 2 jam. Highway yang menghubungkan Bangkok dengan Pattaya memang sudah cukup bagus, jadi tidak masalah bagi sedan-sedan untuk memacu kecepatannya secepat mungkin. Selain highway, ada juga jalan alternatif lainnya, yaitu express way, sedikit lebih bagus daripada highway. Dengan adanya dua buah jalur alternatif ini, mengantisipasi kemacetan akibat padatnya jalur turis dan jalur industri (jalur ke arah Pattaya juga dimanfaatkan oleh truk-truk besar ke dan dari daerah industri di Rayong).

Begitu memasuki kota wisata Pattaya, kesan pertamaku adalah "Wow, banyak sekali bule tua sedang asyik berjalan-jalan, sambil bergandengan tangan mesra dengan wanita-wanita Thai yang masih muda namun tidak cantik." Hehehe… Selain itu, kesanku terhadap suasana kota, "Menyenangkan, rapi, tertib, jalanan dan sekitarnya bersih meskipun cukup banyak anjing-anjing berkeliaran liar di jalanan." Para penyapu jalan sangat bertanggung jawab terhadap tugasnya, dan para pemakai jalan sangat menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya. Bahkan anjing-anjing liar pun terlatih untuk tidak menggulingkan tempat sampah di jalan-jalan. Mungkin juga karena anjing-anjing tersebut sudah kenyang dikasih makan oleh penduduk yang peduli dan sayang terhadap binatang.

Setelah sampai di rumah, ganti baju, aku langsung jalan-jalan ke pantai yang jaraknya hanya 2 km dari rumah kami. Di sini, angkutan umumnya bernama Sontiong, berupa mobil pickup Daihatsu DMax yang diberi tempat duduk dan kap setengah terbuka. Penumpang masuk dari pintu belakang. Angkutan ini mampu memuat cukup banyak penumpang karena luas dan cukup lega. Perlu diingat, bagi para wanita yang berambut panjang, jika naik sontiong sebaiknya rambutnya diikat atau dijepit, karena angin sangat kencang dan akan menerbangkan rambut Anda sehingga mengganggu penumpang lainnya, hehehe…

Pantai Pattaya sangat berkesan bagiku. Sepanjang pinggiran pantai adalah pantai umum, tidak seperti di Indonesia, hampir semua pantai yang nyaman dan aman untuk berenang dikuasai oleh hotel-hotel bintang 5. Di Pattaya, hotel tidak boleh dibangun persis di pinggir pantai untuk mengurangi risiko abrasi air laut. Sepanjang pinggiran pantai Pattaya dibangun jalan-jalan kecil bagi pejalan kaki atau pun orang-orang yang ingin sekedar duduk-duduk menikmati hembusan angin pantai. Sedangkan bagian yang berpasir, yang persis di tepi pantai, para pedagang telah memasang payung-payung dan kursi-kursi bagi para wisatawan yang ingin duduk-duduk sambil berjemur di tepi pantai. Namun akhir-akhir ini, abrasi air laut semakin jauh ke arah daratan, sehingga semakin sempit area duduk-duduk di tepi pantai ini.

Hal yang menarik tentang pantai Pattaya adalah di sepanjang jalan di seberang pantai, banyak sekali bar-bar, meskipun tidak semuanya menawarkan A Go Go (semi streaptease). Kalau siang hari, para penghuni bar masih tidur. Maka nikmatilah hidangan-hidangan para pedagang asongan, seperti udang rebus, kepiting rebus, kacang rebus, dsbnya. Soal harga, jangan khawatir, cukup murah dan kita tidak perlu menawar harganya, karena harga yang mereka tawarkan sama saja antara pedagang yang satu dan yang lainnya, dan harga yang ditawarkan tersebut sudah cukup wajar. Satu hal lagi, pedagang asongan di Thailand tidak seperti di Bali, yang selalu mengganggu kenyamanan turis-turis yang sedang asyik menikmati suasana pantai. Dan bagi pedagang makanan, mereka sangat menjaga kebersihan dagangan dan lingkungan tempat berdagang. Jika mereka tidak menjaga kebersihan, mereka pasti akan dilarang berjualan lagi di lokasi tersebut. Ohya, pedagang kecil di sini biasanya memiliki kendaraan beroda 3, yaitu tuk-tuk yang dimodifikasi dari sepeda motor, gunanya untuk mengangkut barang dan perlengkapan berjualan mereka, termasuk air bersih dan air untuk cuci-cuci. Tapi kalau mereka sudah punya mobil, pastinya perlengkapan tersebut dibawa dengan mobil.

Bicara soal mobil, jika di Indonesia mobil yang paling banyak berkeliaran di jalanan adalah jenis mobil kijang dan sejenisnya, kalau di Thailand, mobil pick up adalah mobil yang paling banyak diminati karena mereka sangat membutuhkan bagasi yang cukup lega untuk memuat bawaan mereka. Sebagai catatan bahwa penduduk Thailand cukup banyak yang bekerja sebagai petani. Para petani di Thailand cukup makmur dan sejahtera. Mereka punya tanah yang cukup luas, mampu memiliki mobil pick up untuk membawa hasil panennya langsung ke pasar (jalanan dari desa-desa sudah sangat bagus sehingga bisa mengurangi panjangnya rantai pemasaran). Selain petani, yang juga memilih mobil pick up sebagai kendaraan pribadi adalah para pedagang. Di Thailand, bunga kredit mobil dan kredit usaha sangat kecil, yaitu hanya 2%, itulah sebabnya perekonomian tetap lancar, dan semua orang bersemangat bekerja sebagai wiraswasta dibanding melamar kerja di kantoran. :D (di Indonesia, bunga efektif kredit usaha kecil sekitar 17% - 21%)

Malam hari berjalan-jalan di Pattaya, terutama di sekitar Beach Road sampai ke arah Walking Street, aku menemukan kehidupan malam yang tidak pernah ada habisnya. Setiap hari, bahkan malam natal sekalipun, always party! Tapi, jangan berharap wanita-wanita bar di Pattaya cantik-cantik :D Meskipun begitu, mereka dengan PDnya naik ke atas meja-meja bar, berjoget-joget ria, sambil sesekali menegak bir, berusaha menarik minat para bule-bule agar datang ke bar tempat mereka bekerja. Tapi mereka juga tidak boleh sampai mabuk, karena mereka dibayar oleh pemilik bar hanya sebagai penggembira, agar para customer menghamburkan uangnya membeli minuman sebanyak-banyaknya di bar tersebut. :D Beruntung bagi para wanita bar tersebut jika ada yang jatuh cinta dengan mereka, sehingga mereka bisa dipacari dan tidak perlu lagi menjadi wanita bar. Yang penting, mereka bersedia saja berpacaran atau menjadi istri bule gaek alias opa-opa atau bahkan bule yang memiliki cacat tubuh, at least si bule punya duit banyak dan siap menjamin kehidupan si wanita berikut keluarganya. Prinsip perkawinan orang Thai tidak jauh berbeda dengan orang Indonesia, mengawini seorang gadis sama artinya "mengawini" seluruh keluarganya :D

Penghuni Pattaya, selain penduduk lokal Thai asli, ada banyak sekali bule-bule tua yang menghabiskan masa pensiunnya dengan mengawini wanita Thai. Selain itu, banyak pula karyawan-karyawan expatriat, seperti kakakku, yang tinggal di Pattaya tapi bekerja di kawasan industri Rayong. Jarak Pattaya dan Rayong memang cukup jauh, sekitar 50 KM, namun karena setiap perusahaan menyediakan bus karyawan, hal ini menjadi tidak masalah. Ketika memasuki bulan-bulan Desember, aku baru menemukan banyaknya bule-bule muda yang cakep dan ganteng-ganteng berkeliaran di Pattaya. Ya, karena liburan Natal dan Tahun Baru telah tiba. Desember adalah high season bagi Thailand, dan Pattaya khususnya. Hotel-hotel bintang 5 penuh semua. Service appartement juga penuh. Ohya, bagi wisatawan dengan kocek seadanya, lebih baik menyewa daily appartement daripada hotel karena biayanya jauh lebih murah, namun layanan yang didapatkan tidak ada bedanya dengan hotel. Apalagi jika ingin berlibur cukup lama di Thailand, service appartement dapat menjadi pilihan yang baik. Rata-rata harga sewa service appartement per hari sekitar 900 - 2000 bhat (Rp 200 ribu - Rp 500 ribu). Sedangkan bila sewa per bulan sekitar 6000 bhat - 20.000 bhat (Rp 1,5 juta - Rp 4 juta). Jauh lebih murah dibanding menyewa kamar hotel berbintang.

Jika datang berlibur ke Thailand, sebaiknya datang dengan koper kosong dan membawa uang saku yang cukup banyak. Wanita yang gila belanja akan sulit menahan diri untuk tidak membelanjakan uangnya di Thailand. Mulai dari baju, sepatu, dan pernak-pernik seperti kalung, anting-anting, gelang, dan cincin, semuanya menarik, desainnya indah dan harganya cukup murah dan terjangkau. Tapi, jika mau berbelanja, sebaiknya belanjalah di Bangkok, bukan di Pattaya, karena harganya akan jauh lebih murah bila di Bangkok. Pusat-pusat perbelanjaan yang digemari para turis antara lain: "Chatucak weekend market, Pratunam Fashion Mall, MBK, dan Lhumpini night market." Soal harga, memang tidak bisa tawar-menawar ala Mangga Dua, di mana harga yang ditawarkan jauh lebih tinggi daripada harga seharusnya. Paling-paling diskon yang bisa kita minta sekitar 10% jika barang yang kita beli cukup banyak. Dan jangan khawatir bahwa kita mendapatkan harga yang mahal, karena di semua tempat, para pedagang akan menawarkan harga yang sama untuk jenis produk yang sama. Dan penjual di Thailand, tidak pernah marah seperti penjual di Indonesia jika misalnya kita batal membeli produknya setelah kita menyibukkannya dengan menanya-nanyai harga barangnya. Ohya, jangan lupa membawa kalkulator untuk menghitung kurs, dan bawalah troli untuk memuat belanjaan.

Jika ingin berjalan-jalan di Bangkok, lebih baik menggunakan angkutan Sky Train atau pun MRT atau kereta bawah tanah, daripada membawa mobil pribadi atau pun menggunakan jasa taksi. Bangkok adalah kota yang sangat tidak menyenangkan untuk urusan lalu lintas, macet di mana-mana. Lebih cepat dan aman jika naik sky train atau MRT. Tidak ada perasaan takut dilecehkan atau ditodong seperti naik KRL di Jakarta. Yang pasti, banyak sekali bule-bule, termasuk expatriat yang bekerja di Bangkok memanfaatkan sky train atau MRT sebagai sarana transportasi. Aku kagum, Bangkok berhasil membangun MRT tanpa perlu menggusur bangunan yang sudah ada di atasnya. Mereka sanggup berinvestasi besar untuk membeli teknologi ini. Padahal kalau Indonesia mau, maka koruptor-koruptor kelas kakap itu  akan semakin kaya, karena proyek ini cukup mahal, berarti semakin banyak duit yang bisa dikorupsi (Sorry, comment ini agak nyeleneh.. :D).

Pengalaman berkesan lainnya adalah ketika aku berhasil membaca dan menulis tulisan Thai. Pertama kali aku di Thailand, aku kesal sekali mengapa jarang sekali ada tulisan berbahasa Inggris di kemasan produk-produk Thailand. Padahal, sebagai muslim, hal yang harus diperhatikan adalah kandungan "Pork" pada makanan. Akhirnya, aku memutuskan les bahasa Thai, karena kalau ingin menjadi pekerja asing di Thailand, ada kalanya mampu berbahasa Thai menjadi syarat. Memang sih, aku sampai saat ini hanya bisa berkomunikasi sedikit-sedikit dalam bahasa Thai, tapi kalau untuk urusan membaca (walau tidak tahu artinya apa :D) aku masih bisa. Jadi, setelah aku baca tulisan itu, aku bertanya pada guru lesku, apa artinya. Dalam hal ini, aku cukup bangga. Tidak semua orang mampu cepat membaca tulisan Thai dengan baik dan benar (dengan intonasi yang tepat tentunya). Beruntunglah aku mengambil kursus di Prince of Wales di Pattaya, meskipun biayanya mahal (16.800 bhat = Rp 5 juta untuk 60 jam), tapi mereka punya metode pengajaran yang bagus sehingga aku sudah bisa membaca dan menulis dalam huruf Thai hanya dalam 10 jam pertemuan.

Yang akan membuat aku rindu adalah buah-buahan di Thailand. Memang sih tidak murah-murah banget, tapi enak, manis, dan ukurannya itu, jauh lebih besar daripada buah-buahan yang ada di Indonesia. Buah-buahan yang ada di supermarket apalagi. Kualitasnya bagus-bagus. Buah-buahan asal Thailand yang masuk supermarket di Indonesia sepertinya buah kelas C atau D, karena buah kelas A dan B, yang dijual di supermarket di Thailand, kondisinya jauh lebih bagus dibandingkan di Indonesia. Selain durian montong, mangga dan jambu air Thailand enak sekali.

Soal masakan, aku cukup tergila-gila dengan masakan khas Thailand seperti Som Tam dan Tom Yam. Membuatnya mudah, rasanya enak, tapi pedasnya minta ampun. Tapi itulah nikmatnya masakan Thailand, pedas bercampur asem-asem manis :)

Ohya, ada 1 my greatest memory in Pattaya. Kami tinggal di town house, yaitu daerah kompleks perumahan yang belum seluruhnya jadi. Masih banyak tanah kosong yang belum dibangun. Kira-kira akhir November, ada tragedi di rumahku. Seekor ular cobra dari arah tanah kosong entah mengapa berjalan-jalan ke perumahan dan masuklah ke rumahku. Ketika itu aku sedang asyik online Internet, tiba-tiba sekitar 1 meter dari kakiku, ada ular cobra yang sedang menyeringai ke arahku dan anjingku yang sedang penasaran melihat hewan asing tersebut. Siang itu benar-benar menjadi siang tak terlupakan, ketika aku harus menjerit sekuatnya dan berlari keluar rumah sambil menggendong anjingku, meminta tolong para tetangga. Untung saja, mereka mendengar teriakkanku dan bersedia membantuku mencari dan menangkap si cobra tersesat itu. dan sesuai kepercayaan orang Thai, mereka tidak membunuh si ular, melainkan mengembalikannya ke habitatnya. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi membuka pintu rumahku, apalagi beberapa hari lalu, ketika pulang dari swalayan, aku berpapasan lagi dengan ular tanah kecil, yang melintas di depan rumahku (shit! I really hate snake!). Itu adalah memory yang tidak pernah terlupakan selama aku di Pattaya.

Pattaya, I’m gonna miss u. Wait me next year, I will come back to see u and see my Bonnie again…

My Bonnie is over the ocean..
My Bonnie is over the sea..
My Bonnie is over the ocean..
Oh..bring back my Bonnie to me..

Bring back.. bring back..
Oh.. Bring back my Bonnie to me.. to me..
Bring back.. bring back..
Oh.. Bring back my Bonnie to me.. to me..

Ketika Anjing-Anjing Liar Mulai Memakai Baju…

Filed under: Travel — nony-loves-u at 4:31 pm on Monday, December 25, 2006

Memasuki bulan Desember, udara di Thailand tiba-tiba berubah menjadi dingin sekali. Katanya sih, ini pertanda musim dingin telah tiba. Angin membawa udara dingin yang membuat kulit menjadi kering dan terkelupas-kelupas. Pokoknya, perubahannya sangat drastis antara musim hujan dan musim dingin, karena pada musim hujan, udara masih saja terasa agak panas. Bagi para turis asal Eropa, udara dingin seperti ini dianggap sejuk. Jika penduduk Thailand dan turis-turis asal Asia Tenggara sudah mengenakan jaket, mereka malah berjalan-jalan tanpa mengenakan kaos atau hanya ber-"tank top" ria bagi para wanita. Mungkin bagi mereka, inilah udara yang sejuk sementara matahari masih bersinar cukup terik. Itulah sebabnya, pada bulan-bulan Desember begini, para turis asal Eropa, Amerika, dan Australia lebih senang menghabiskan liburan musim dinginnya di Thailand. Sejuk sih… :D

Masih soal udara dingin, aku akhirnya membeli beberapa baju singlet ukuran anak kecil usia 1 tahun untuk dipakaikan di tubuh anjingku yang suka sekali tiduran di lantai. Musim dingin begini, lantai rumah menjadi dingin sekali. Aku khawatir si ‘kecil’ akan sakit perut karena tiduran di lantai yang dingin. Jadilah, si Bonnie punya 7 buah baju anak yang selalu diganti setiap hari.

Selain itu, ada hal yang cukup menarik disaksikan jika berjalan di sekitar Pattaya di pagi-pagi hari setelah subuh. Aku pikir, hanya anjingku saja yang berbaju ria. Anjing-anjing liar ternyata memakai baju. Memang sih, bukan baju bagus yang khusus untuk anjing, tapi itu adalah baju-baju bekas milik para penduduk lokal. Orang-orang Thailand terkenal pecinta binatang. Mereka pun tidak tega melihat anjing-anjing liar tidur meringkuk di jalanan karena udara dingin yang menyerang. Jadi, kalau sedang membawa anjing jalan-jalan di pagi hari, harus waspada bila melihat gundukan warna-warni. Bisa jadi itu adalah anjing galak yang sedang tidur dan paling suka menyerang bila ada anjing lain lewat di wilayahnya, hehehe… Jadi, jangan pernah lupa membawa tongkat jika sedang mengajak anjing jalan-jalan, sekedar jaga-jaga saja.

Ohya, anjing liar di Thailand itu jenis bagus-bagus loh. Selain jenis anjing kampung biasa (sama seperti di Indonesia), banyak juga anjing liar yang berasal dari persilangan dengan anjing ras, atau bahkan ada anjing ras murni yang dibuang oleh pemiliknya. Pernah suatu kali, aku sedang berjalan-jalan kaki, aku sempat shock karena berpapasan dengan anjing Doberman, tapi tidak ada rantainya dan pemilik yang membawanya. Tampangnya agak dekil. Bisa dipastikan, Doberman itu adalah anjing liar. Untung saja si Doberman ini cukup ‘manis’ dan tidak berusaha menyerang. Kata orang-orang Thailand, anjing liar di sini cukup ramah karena sering bersosialisasi dengan manusia. Kalau kita ingin memelihara anjing-anjing bagus tapi gratis, rajin-rajin saja menyusuri jalan-jalan di Pattaya. Cukup banyak anjing yang terlantar tapi jenisnya bagus. Kata kakakku, itulah orang Thailand, penyayang binatang, tapi kalau sudah bosan, anjingnya dilepas begitu saja, bermain dan mencari makanan sendiri di jalanan. Kasihan… Selain itu, kita juga bisa mendapatkan anak-anak anjing gratis di tempat penampungan atau "dog shelter". Anak-anak anjing dari induk-induk anjing liar di jalanan dikumpulkan oleh para sukarelawan pecinta binatang di "dog shelter" tersebut. Bila ada orang yang berminat untuk mengadopsinya, anjing tersebut diberikan secara cuma-cuma. Namun sebaiknya kita memberikan uang pengganti sebagai sumbangan bagi anak-anak anjing lainnya yang masih berada di shelter tersebut. Ya.. bukan manusia saja yang punya panti asuhan, anjing dan kucing juga ada panti-nya.. :D

Next Page »