Lima bulan sudah aku menjadi alien di Thailand, banyak sekali pengalaman berharga yang tidak akan terlupakan. Pertama kali menginjakkan kaki di bandara Bangkok (lupa apa nama Bandaranya.. hehehe…), mendengar suara pembaca jadwal keberangkatan dan kedatangan, rasanya merdu sekali. "Prhoksha.." alias "Attention..", lalu keluar dari bandara dengan taksi limo ke arah Pattaya dengan tarif 2500 bhat, atau sekitar 700 ribu rupiah (wakkks… mahal banget!). Tarif ini memang cukup mahal dibandingkan menggunakan angkutan travel biasa, sekitar 800 bhat per orang. Tapi karena si penjemput alias kakakku lebih suka menggunakan taksi limo, ya sudah.. kami (aku dan ayahku) menurut saja. Toh kalau dibandingkan biaya 800 bhat x 3 orang = 2400 bhat, biayanya ternyata sama saja
Jarak antara bandara sampai Pattaya sekitar 200 KM, ditempuh hanya dalam waktu 2 jam. Highway yang menghubungkan Bangkok dengan Pattaya memang sudah cukup bagus, jadi tidak masalah bagi sedan-sedan untuk memacu kecepatannya secepat mungkin. Selain highway, ada juga jalan alternatif lainnya, yaitu express way, sedikit lebih bagus daripada highway. Dengan adanya dua buah jalur alternatif ini, mengantisipasi kemacetan akibat padatnya jalur turis dan jalur industri (jalur ke arah Pattaya juga dimanfaatkan oleh truk-truk besar ke dan dari daerah industri di Rayong).
Begitu memasuki kota wisata Pattaya, kesan pertamaku adalah "Wow, banyak sekali bule tua sedang asyik berjalan-jalan, sambil bergandengan tangan mesra dengan wanita-wanita Thai yang masih muda namun tidak cantik." Hehehe… Selain itu, kesanku terhadap suasana kota, "Menyenangkan, rapi, tertib, jalanan dan sekitarnya bersih meskipun cukup banyak anjing-anjing berkeliaran liar di jalanan." Para penyapu jalan sangat bertanggung jawab terhadap tugasnya, dan para pemakai jalan sangat menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya. Bahkan anjing-anjing liar pun terlatih untuk tidak menggulingkan tempat sampah di jalan-jalan. Mungkin juga karena anjing-anjing tersebut sudah kenyang dikasih makan oleh penduduk yang peduli dan sayang terhadap binatang.
Setelah sampai di rumah, ganti baju, aku langsung jalan-jalan ke pantai yang jaraknya hanya 2 km dari rumah kami. Di sini, angkutan umumnya bernama Sontiong, berupa mobil pickup Daihatsu DMax yang diberi tempat duduk dan kap setengah terbuka. Penumpang masuk dari pintu belakang. Angkutan ini mampu memuat cukup banyak penumpang karena luas dan cukup lega. Perlu diingat, bagi para wanita yang berambut panjang, jika naik sontiong sebaiknya rambutnya diikat atau dijepit, karena angin sangat kencang dan akan menerbangkan rambut Anda sehingga mengganggu penumpang lainnya, hehehe…
Pantai Pattaya sangat berkesan bagiku. Sepanjang pinggiran pantai adalah pantai umum, tidak seperti di Indonesia, hampir semua pantai yang nyaman dan aman untuk berenang dikuasai oleh hotel-hotel bintang 5. Di Pattaya, hotel tidak boleh dibangun persis di pinggir pantai untuk mengurangi risiko abrasi air laut. Sepanjang pinggiran pantai Pattaya dibangun jalan-jalan kecil bagi pejalan kaki atau pun orang-orang yang ingin sekedar duduk-duduk menikmati hembusan angin pantai. Sedangkan bagian yang berpasir, yang persis di tepi pantai, para pedagang telah memasang payung-payung dan kursi-kursi bagi para wisatawan yang ingin duduk-duduk sambil berjemur di tepi pantai. Namun akhir-akhir ini, abrasi air laut semakin jauh ke arah daratan, sehingga semakin sempit area duduk-duduk di tepi pantai ini.
Hal yang menarik tentang pantai Pattaya adalah di sepanjang jalan di seberang pantai, banyak sekali bar-bar, meskipun tidak semuanya menawarkan A Go Go (semi streaptease). Kalau siang hari, para penghuni bar masih tidur. Maka nikmatilah hidangan-hidangan para pedagang asongan, seperti udang rebus, kepiting rebus, kacang rebus, dsbnya. Soal harga, jangan khawatir, cukup murah dan kita tidak perlu menawar harganya, karena harga yang mereka tawarkan sama saja antara pedagang yang satu dan yang lainnya, dan harga yang ditawarkan tersebut sudah cukup wajar. Satu hal lagi, pedagang asongan di Thailand tidak seperti di Bali, yang selalu mengganggu kenyamanan turis-turis yang sedang asyik menikmati suasana pantai. Dan bagi pedagang makanan, mereka sangat menjaga kebersihan dagangan dan lingkungan tempat berdagang. Jika mereka tidak menjaga kebersihan, mereka pasti akan dilarang berjualan lagi di lokasi tersebut. Ohya, pedagang kecil di sini biasanya memiliki kendaraan beroda 3, yaitu tuk-tuk yang dimodifikasi dari sepeda motor, gunanya untuk mengangkut barang dan perlengkapan berjualan mereka, termasuk air bersih dan air untuk cuci-cuci. Tapi kalau mereka sudah punya mobil, pastinya perlengkapan tersebut dibawa dengan mobil.
Bicara soal mobil, jika di Indonesia mobil yang paling banyak berkeliaran di jalanan adalah jenis mobil kijang dan sejenisnya, kalau di Thailand, mobil pick up adalah mobil yang paling banyak diminati karena mereka sangat membutuhkan bagasi yang cukup lega untuk memuat bawaan mereka. Sebagai catatan bahwa penduduk Thailand cukup banyak yang bekerja sebagai petani. Para petani di Thailand cukup makmur dan sejahtera. Mereka punya tanah yang cukup luas, mampu memiliki mobil pick up untuk membawa hasil panennya langsung ke pasar (jalanan dari desa-desa sudah sangat bagus sehingga bisa mengurangi panjangnya rantai pemasaran). Selain petani, yang juga memilih mobil pick up sebagai kendaraan pribadi adalah para pedagang. Di Thailand, bunga kredit mobil dan kredit usaha sangat kecil, yaitu hanya 2%, itulah sebabnya perekonomian tetap lancar, dan semua orang bersemangat bekerja sebagai wiraswasta dibanding melamar kerja di kantoran.
(di Indonesia, bunga efektif kredit usaha kecil sekitar 17% - 21%)
Malam hari berjalan-jalan di Pattaya, terutama di sekitar Beach Road sampai ke arah Walking Street, aku menemukan kehidupan malam yang tidak pernah ada habisnya. Setiap hari, bahkan malam natal sekalipun, always party! Tapi, jangan berharap wanita-wanita bar di Pattaya cantik-cantik
Meskipun begitu, mereka dengan PDnya naik ke atas meja-meja bar, berjoget-joget ria, sambil sesekali menegak bir, berusaha menarik minat para bule-bule agar datang ke bar tempat mereka bekerja. Tapi mereka juga tidak boleh sampai mabuk, karena mereka dibayar oleh pemilik bar hanya sebagai penggembira, agar para customer menghamburkan uangnya membeli minuman sebanyak-banyaknya di bar tersebut.
Beruntung bagi para wanita bar tersebut jika ada yang jatuh cinta dengan mereka, sehingga mereka bisa dipacari dan tidak perlu lagi menjadi wanita bar. Yang penting, mereka bersedia saja berpacaran atau menjadi istri bule gaek alias opa-opa atau bahkan bule yang memiliki cacat tubuh, at least si bule punya duit banyak dan siap menjamin kehidupan si wanita berikut keluarganya. Prinsip perkawinan orang Thai tidak jauh berbeda dengan orang Indonesia, mengawini seorang gadis sama artinya "mengawini" seluruh keluarganya
Penghuni Pattaya, selain penduduk lokal Thai asli, ada banyak sekali bule-bule tua yang menghabiskan masa pensiunnya dengan mengawini wanita Thai. Selain itu, banyak pula karyawan-karyawan expatriat, seperti kakakku, yang tinggal di Pattaya tapi bekerja di kawasan industri Rayong. Jarak Pattaya dan Rayong memang cukup jauh, sekitar 50 KM, namun karena setiap perusahaan menyediakan bus karyawan, hal ini menjadi tidak masalah. Ketika memasuki bulan-bulan Desember, aku baru menemukan banyaknya bule-bule muda yang cakep dan ganteng-ganteng berkeliaran di Pattaya. Ya, karena liburan Natal dan Tahun Baru telah tiba. Desember adalah high season bagi Thailand, dan Pattaya khususnya. Hotel-hotel bintang 5 penuh semua. Service appartement juga penuh. Ohya, bagi wisatawan dengan kocek seadanya, lebih baik menyewa daily appartement daripada hotel karena biayanya jauh lebih murah, namun layanan yang didapatkan tidak ada bedanya dengan hotel. Apalagi jika ingin berlibur cukup lama di Thailand, service appartement dapat menjadi pilihan yang baik. Rata-rata harga sewa service appartement per hari sekitar 900 - 2000 bhat (Rp 200 ribu - Rp 500 ribu). Sedangkan bila sewa per bulan sekitar 6000 bhat - 20.000 bhat (Rp 1,5 juta - Rp 4 juta). Jauh lebih murah dibanding menyewa kamar hotel berbintang.
Jika datang berlibur ke Thailand, sebaiknya datang dengan koper kosong dan membawa uang saku yang cukup banyak. Wanita yang gila belanja akan sulit menahan diri untuk tidak membelanjakan uangnya di Thailand. Mulai dari baju, sepatu, dan pernak-pernik seperti kalung, anting-anting, gelang, dan cincin, semuanya menarik, desainnya indah dan harganya cukup murah dan terjangkau. Tapi, jika mau berbelanja, sebaiknya belanjalah di Bangkok, bukan di Pattaya, karena harganya akan jauh lebih murah bila di Bangkok. Pusat-pusat perbelanjaan yang digemari para turis antara lain: "Chatucak weekend market, Pratunam Fashion Mall, MBK, dan Lhumpini night market." Soal harga, memang tidak bisa tawar-menawar ala Mangga Dua, di mana harga yang ditawarkan jauh lebih tinggi daripada harga seharusnya. Paling-paling diskon yang bisa kita minta sekitar 10% jika barang yang kita beli cukup banyak. Dan jangan khawatir bahwa kita mendapatkan harga yang mahal, karena di semua tempat, para pedagang akan menawarkan harga yang sama untuk jenis produk yang sama. Dan penjual di Thailand, tidak pernah marah seperti penjual di Indonesia jika misalnya kita batal membeli produknya setelah kita menyibukkannya dengan menanya-nanyai harga barangnya. Ohya, jangan lupa membawa kalkulator untuk menghitung kurs, dan bawalah troli untuk memuat belanjaan.
Jika ingin berjalan-jalan di Bangkok, lebih baik menggunakan angkutan Sky Train atau pun MRT atau kereta bawah tanah, daripada membawa mobil pribadi atau pun menggunakan jasa taksi. Bangkok adalah kota yang sangat tidak menyenangkan untuk urusan lalu lintas, macet di mana-mana. Lebih cepat dan aman jika naik sky train atau MRT. Tidak ada perasaan takut dilecehkan atau ditodong seperti naik KRL di Jakarta. Yang pasti, banyak sekali bule-bule, termasuk expatriat yang bekerja di Bangkok memanfaatkan sky train atau MRT sebagai sarana transportasi. Aku kagum, Bangkok berhasil membangun MRT tanpa perlu menggusur bangunan yang sudah ada di atasnya. Mereka sanggup berinvestasi besar untuk membeli teknologi ini. Padahal kalau Indonesia mau, maka koruptor-koruptor kelas kakap itu akan semakin kaya, karena proyek ini cukup mahal, berarti semakin banyak duit yang bisa dikorupsi (Sorry, comment ini agak nyeleneh.. :D).
Pengalaman berkesan lainnya adalah ketika aku berhasil membaca dan menulis tulisan Thai. Pertama kali aku di Thailand, aku kesal sekali mengapa jarang sekali ada tulisan berbahasa Inggris di kemasan produk-produk Thailand. Padahal, sebagai muslim, hal yang harus diperhatikan adalah kandungan "Pork" pada makanan. Akhirnya, aku memutuskan les bahasa Thai, karena kalau ingin menjadi pekerja asing di Thailand, ada kalanya mampu berbahasa Thai menjadi syarat. Memang sih, aku sampai saat ini hanya bisa berkomunikasi sedikit-sedikit dalam bahasa Thai, tapi kalau untuk urusan membaca (walau tidak tahu artinya apa :D) aku masih bisa. Jadi, setelah aku baca tulisan itu, aku bertanya pada guru lesku, apa artinya. Dalam hal ini, aku cukup bangga. Tidak semua orang mampu cepat membaca tulisan Thai dengan baik dan benar (dengan intonasi yang tepat tentunya). Beruntunglah aku mengambil kursus di Prince of Wales di Pattaya, meskipun biayanya mahal (16.800 bhat = Rp 5 juta untuk 60 jam), tapi mereka punya metode pengajaran yang bagus sehingga aku sudah bisa membaca dan menulis dalam huruf Thai hanya dalam 10 jam pertemuan.
Yang akan membuat aku rindu adalah buah-buahan di Thailand. Memang sih tidak murah-murah banget, tapi enak, manis, dan ukurannya itu, jauh lebih besar daripada buah-buahan yang ada di Indonesia. Buah-buahan yang ada di supermarket apalagi. Kualitasnya bagus-bagus. Buah-buahan asal Thailand yang masuk supermarket di Indonesia sepertinya buah kelas C atau D, karena buah kelas A dan B, yang dijual di supermarket di Thailand, kondisinya jauh lebih bagus dibandingkan di Indonesia. Selain durian montong, mangga dan jambu air Thailand enak sekali.
Soal masakan, aku cukup tergila-gila dengan masakan khas Thailand seperti Som Tam dan Tom Yam. Membuatnya mudah, rasanya enak, tapi pedasnya minta ampun. Tapi itulah nikmatnya masakan Thailand, pedas bercampur asem-asem manis
Ohya, ada 1 my greatest memory in Pattaya. Kami tinggal di town house, yaitu daerah kompleks perumahan yang belum seluruhnya jadi. Masih banyak tanah kosong yang belum dibangun. Kira-kira akhir November, ada tragedi di rumahku. Seekor ular cobra dari arah tanah kosong entah mengapa berjalan-jalan ke perumahan dan masuklah ke rumahku. Ketika itu aku sedang asyik online Internet, tiba-tiba sekitar 1 meter dari kakiku, ada ular cobra yang sedang menyeringai ke arahku dan anjingku yang sedang penasaran melihat hewan asing tersebut. Siang itu benar-benar menjadi siang tak terlupakan, ketika aku harus menjerit sekuatnya dan berlari keluar rumah sambil menggendong anjingku, meminta tolong para tetangga. Untung saja, mereka mendengar teriakkanku dan bersedia membantuku mencari dan menangkap si cobra tersesat itu. dan sesuai kepercayaan orang Thai, mereka tidak membunuh si ular, melainkan mengembalikannya ke habitatnya. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi membuka pintu rumahku, apalagi beberapa hari lalu, ketika pulang dari swalayan, aku berpapasan lagi dengan ular tanah kecil, yang melintas di depan rumahku (shit! I really hate snake!). Itu adalah memory yang tidak pernah terlupakan selama aku di Pattaya.
Pattaya, I’m gonna miss u. Wait me next year, I will come back to see u and see my Bonnie again…
My Bonnie is over the ocean..
My Bonnie is over the sea..
My Bonnie is over the ocean..
Oh..bring back my Bonnie to me..
Bring back.. bring back..
Oh.. Bring back my Bonnie to me.. to me..
Bring back.. bring back..
Oh.. Bring back my Bonnie to me.. to me..